berpikir kritis

Warga +62 Belum Mampu Berpikir Kritis!!!

Ini mengacu pada kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif dan membuat penilaian yang masuk akal. Berpikir kritis melibatkan evaluasi sumber-sumber seperti data, fakta, fenomena yang dapat diamati, dan temuan penelitian.

Pemikir kritis yang baik dapat menarik kesimpulan yang masuk akal dari serangkaian informasi dan membedakan antara rincian yang berguna dan yang kurang bermanfaat untuk memecahkan masalah atau membuat keputusan.

Sebuah bangsa yang besar tidak akan menghasilkan karya-karya besar bila tidak kritis terhadap informasi-informasi yang mereka terima. Dengan kata lain, apakah tradisitradisi berpikir ilmiah hidup dalam bangsa itu? Tradisi ini telah dimulai 2.400 tahun lalu oleh Group Of Gang 3: Scrates, Aristoteles, dan Plato.

Dari pemikiran mereka bertiga itulah diberbagai kampus dibarat, semua mahasiswa, apapun jurusannya, selama dua tahun pertama wajib mengambil mata kuliah Liberal Art. Liberal Art terdiri dari sejarah, matematika, science, rethoric, kesenian, astronomi, ekonomi politik, psikologi, sosiologi, dan bahasa.

Pengetahuan-pengetahuan seperti ini bukan bersifat hafalan, namun menantang cara beroikir, menguji kebenaran secara ilmiah untuk membebaskan manusia dari mitos dan tradisi yang sempit. Inilah cikal bakal berpikir kita.

Bangsa yang tidak terbiasa berpikir kritis akan mudah terbawa arus, mudah percaya kepada takhayul, terseret emosi, terlibat dalam penyebaran rumor atau gossip, yang belum tentu benar, mempunyai tendensi prasangka yang buruk dan bias, terlalui mudah dimanipulasi oleh dogmatic.

Anda masih ingat mungkin pemilihan presiden tahun 2019, betapa mudahnya para sarjana kita dimanipulasi oleh berita-berita bohong, terlihat dalalm black campaign, bahkan oleh hasil-hasil survey yang dimanipulasi.

Pilpres 2019 Kutipan Buku

   Anda juga tentu masih ingat             kisah   tentang Ponari yang         dikatakan memiliki batu sakti       yang dapat menyembuhkan           segala macam penyakit, atau                tentang kalangan terdidik     sering      tertipu oleh money     games?

Bangsa yang demikian tidak bisa membaca kebenaran dan mudah dipengaruh oleh orang-orang yang mencari pembenaran. Berpikir kritis adalah kemampuan yang harus dibentuk sedari dini.

Orang-orang yang mampu berpikir kritis akan mengevaluasi setiap informasi yang masuk dengan bertanya, apakah suatu pernyataan itu benar dan dapat diterapkan?

Jadi ada proses reflektif untuk menafsirkan informasi dan mencari logika yang masuk akal dengan dukungan bukti-bukti. Dengan begitu, Anda pun dapat mengatasi prsangka-prasangka buruk dan bias pilihan terhadap suatu hal dan tentu mebuat anda lebih cerdas dan masuk akal.

Pengertian Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah proses disiplin intelektual yang secara aktif dan terampil mengkonseptualisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan / atau mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari, atau dihasilkan oleh, pengamatan, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi, sebagai panduan untuk keyakinan dan tindakan.

Dalam bentuk keteladanannya, ini didasarkan pada nilai-nilai intelektual universal yang melampaui pembagian materi: kejelasan, akurasi, presisi, konsistensi, relevansi, bukti kuat, alasan yang baik, kedalaman, luas, dan keadilan.

Konsep Untuk Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah pemikiran mandiri, disiplin, dan mandiri yang berupaya memberi alasan pada tingkat kualitas tertinggi dengan cara yang berpikiran adil. Orang yang berpikir kritis secara konsisten berusaha untuk hidup secara rasional, masuk akal, dan empatik.

Mereka sangat sadar akan sifat bawaan pemikiran manusia yang cacat ketika dibiarkan begitu saja. Mereka berusaha untuk mengurangi kekuatan kecenderungan egosentris dan sosentris mereka.

Mereka menggunakan alat intelektual yang ditawarkan pemikiran kritis – konsep dan prinsip yang memungkinkan mereka untuk menganalisis, menilai, dan meningkatkan pemikiran.

Mereka bekerja dengan tekun untuk mengembangkan kebajikan intelektual dari integritas intelektual, kerendahan hati intelektual, sivilitas intelektual, empati intelektual, intelektual rasa keadilan dan kepercayaan pada akal.

Mereka menyadari bahwa betapa pun terampilnya mereka sebagai pemikir, mereka selalu dapat meningkatkan kemampuan penalaran mereka dan kadang-kadang mereka akan menjadi mangsa kesalahan dalam bernalar, irasionalitas manusia, prasangka, bias, distorsi, aturan sosial dan tabu yang diterima secara tidak kritis, kepentingan pribadi. , dan hak istimewa.

Mereka berusaha untuk meningkatkan dunia dengan cara apa pun yang mereka bisa dan berkontribusi untuk masyarakat yang lebih rasional dan beradab. Pada saat yang sama, mereka menyadari kerumitan yang sering melekat dalam melakukannya.

Mereka menghindari berpikir secara sederhana tentang masalah yang rumit dan berusaha untuk mempertimbangkan dengan tepat hak dan kebutuhan orang lain yang relevan.

Mereka mengakui kompleksitas dalam berkembang sebagai pemikir, dan berkomitmen pada praktik seumur hidup menuju perbaikan diri.

Share Artikel Ini Kuy