Sekolah Sehari Penuh

Sekolah Sehari Penuh ? atau Sekolah Setengah Hari ?

Menurut gue yang paling mendesak saat ini adalah bukan berapa jam anak anak disekolah.

Lagi lagi Indonesia itu selalu fokus pada kuantitas bukan kualitas. Selalu saja angka angka lebih penting dari pada kualitas. Ini bukan pertama kalinya pro kontra tentang berapa jam disekolah memanas. Kita masih ingat silang pendapat antara waktu yang dipunyai ibu bekerja dan ibu yang tidak bekerja untuk anak anaknya. Lagi lagi yang diperdebatkan itu masalah angka. Kembali ke masalah sekolah sehari penuh (SSP).

Kesalahan yang paling mendasar para orang tua adalah menggantungkan pendidikan anak anaknya 100% ke sekolah, maka berbondong-bondonglah para orang tua menggiring anak anaknya ke sekolah, bahkan sejak usia yang masih sangat dini yang seharusnya masih tanggungjawab orang tua mengenalkan segala aspek penting dalam hidup. Kita lupa bahwa sekolah memiliki keterbatasan. Kita lupa bahwa sekolah hanya bertanggungjawab sekian persen atas proses belajar anak. Pendidikan karakter dan pengembangan mental lah yang memegang peranan penting dalam kehidupan anak anaknya kelak

Nah Satu Lagi Tentang Pendidikan. Yaitu PENDIDIKAN MORAL.

Setiap kali ada orang yang bilang kalau pendidikan formal di Indonesia ga mampu memberikan pengajaran sosial dan moral yang berkualitas, gw cuma bisa geleng-geleng.

Tau sih tukang ngeluh ini soal pendidikan formal?
Yang namanya pendidikan formal, seperti sekolah-sekolah pada umumnya di indonesia, ga akan bisa dan ga akan pernah mampu memberikan pengajaran sosial dan moral non-akademistis. Kenapa?
Karena ia FORMAL.

Sesuatu yang formal itu harus terstandarisasi dan terukur. Pendidikan sosial dan moral ga pernah punya standar ukuran. Kemampuan bersosialisasi setiap individu akan selalu berbeda. Apalagi standar moral berbasis budaya dan agama.
..dan sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal, bersifat memberikan pendidikan secara kolektif. Bukan individualistik.

Adalah sebuah bentuk ketidakpahaman yang mendasar ketika menuntut media pendidikan kolektif mengajar individu secara spesifik. Kalaupun bisa, maka pendidikan tersebut PASTI diberikan oleh pengajar tertentu(individu) kepada murid tertentu(individu) diluar jam pendidikan formal.
Karena alasan yang sama, maka pendidikan formal di indonesia–dan dimanapun–akan selalu condong menjejali siswa dengan ilmu-ilmu eksak dan 1textbook.

Maka sangat wajar–dan memang sudah seharusnya–sekolah menekan siswanya pada pelajaran-pelajaran akademis. Sekolah bukanlah tempat belajar baik-jahat ataupun bagus-jelek. Tapi tentang fakta-fiktif, tentang apa yang bisa dikecap dengan indera fisik. Tentang objektifitas mata, telinga, kulit, hidung dan lidah. Bukan apa yang dirasakan hati dan jiwa.
Kenapa?

Karena pendidikan sosial dan moral sebenarnya bukan tanggung jawab sekolah. Moralitas adalah tanggung jawab keluarga, dan cuma keluarga.
Ada yang salah dengan moral seseorang? Jangan salahkan sekolah yang hanya bertugas mendidik siswa.
Salahkan keluarga, yang bertugas mendidik MANUSIA. Gue bukan seorang guru dan gue juga belum menjadi seorang ayah.

Share Artikel Ini Kuy