Awal Mula Sholat Tarawih

Awal Mula Sholat Tarawih

Sholat Tarawih secara berjamaah sebagaimana dilakukan sekarang ini bukan sesuatu yang pernah dilakukan oleh Nabi, lho.

Oleh para ulama, shalat tarawih ini dinilai merupakan maksud sabda Rasul tentang menghidupkan malam Ramadan (qiyam ramadlan):

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa bangun (shalat malam) di bulan Ramadan dengan iman dan ihtisab, maka diampuni baginya dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para sahabat yang mengetahui Nabi melaksanakan shalat langsung mengikuti. Dua tiga malam berlalu, Rasul masih melaksanakan shalat tersebut, dan sahabat yang ikut kian banyak. Di malam keempat, Nabi ternyata absen sampai beberapa malam setelahnya. Ketika ditanya Sejak Nabi wafat, kemudian berlanjut masa khalifah Abu Bakar, dan awal masa khalifah Umar, belum ada yang melakukan tarawih berjamaah di masjid.

Ketika ditanya sebabnya oleh sahabat, Nabi menjawab:

“Sebenarnya tidak ada yang menghambatku untuk shalat bersama kalian. Hanya saja aku takut nanti hal ini akan diwajibkan untuk kalian.”

Kisah di atas menunjukkan anjuran shalat pada malam hari bulan Ramadan. Tidak disebutkan apakah Nabi melakukan shalat tersebut secara berjamaah atau tidak. Shalat tersebut baru dilakukan berjamaah di masa Umar bin Khattab.

Suatu waktu, Umar melihat orang shalat sendiri-sendiri di malam bulan Ramadan. Terkesan kurang kompak, barangkali. Melihat hal itu, Umar meminta Ubay bin Kaab untuk mengajak orang-orang berjamaah.

“Jika saja aku mengumpulkan orang-orang dengan satu imam, maka tentu itu akan lebih bagus.” kata Umar. Ubay bin Kaab ditunjuk menjadi imam. Shalat ini, menurut riwayat Imam al-Baihaqi, konon dilakukan sebanyak dua puluh rakaat.

Esoknya Umar melihat di masjid-masjid lain orang-orang melaksanakan shalat secara berjamaah, seperti telah dilakukan kemarin. Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah (hal yang tidak ditetapkan syariat) adalah tarawih ini.”

Karena riwayat di atas disandarkan pada aktivitas sahabat, maka perkara tarawih berjamaah di atas disebut hadis mauquf. Kebanyakan imam mazhab fikih pun menganjurkan melakukannya secara berjamaah, sebagaimana yang telah dilakukan para sahabat.

Mengenai tarawih berjamaah ini, Imam an-Nawawi menyebutkan dalam Syarah Shahih Muslim, bahwa tarawih berjamaah di masjid ini dianjurkan untuk turut menyemarakkan syiar Islam di bulan Ramadan. Ya, suasana tarawih di masjid inilah yang barangkali kita rindu di bulan Ramadan.

Shalat Tarawih tergolong shalat sunah muaqqatah, yaitu shalat sunah yang diberi waktu khusus. Artinya, apabila tarawih dilakukan di luar waktu yang telah ditentukan syari’at, hukumnya tidak sah.

Pengertian Shalat Tarawih

Tarawih ini adalah bentuk plural (jama’) dari kata tarwihah, yang artinya istirahat. Shalat pada malam bulan Ramadan disebut tarawih, karena setiap dua rakaat seseorang akan beristirahat.

Kata tarawih ini juga dikatakan ulama berasal dari kata yatarawwah yang juga berarti istirahat. Kata ini pernah disebutkan Aisyah tentang cara shalat malam Nabi yang menyela tiap shalat dengan istirahat sejenak. Demikian kurang lebih sebagaimana dikutip KH. Ali Mustafa Yaqub dalam Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadan, tentang bahasan tarawih.

Tarawih adalah bentuk jamak dari tarwihah, secara bahasa artinya istirahat sekali. Dinamakan demikian karena biasanya dahulu para sahabat ketika shalat tarawih mereka memanjangkan berdiri, rukuk dan sujudnya. Maka ketika sudah mengerjakan empat rakaat, mereka istirahat, kemudian mengerjakan empat rakaat lagi, kemudian istirahat, kemudian mengerjakan tiga rakaat (lihat Lisanul Arab, 2/462, Mishbahul Munir, 1/244, Syarhul Mumthi, 4/10).

dikutip dari berbagai sumber : nu.or.id muslim.or.id

Share Artikel Ini Kuy
islam /

2 thoughts on “Awal Mula Sholat Tarawih

    Mayna

    (May 14, 2019 - 12:40 pm)

    Bermanfaat sekali… baru tau soalnya 😀
    Pengertian “Ihtisab” apa ya?

      Wanda Azhar

      (May 20, 2019 - 1:27 pm)

      Alhamdulillah. sama saya juga baru tau mba.
      ihtihsab adalah niat dan kesungguhan untuk meraih pahala puasa yang telah dijanjikan Allah SWT.

Comments are closed.