otak kanan dan otak kiri

Perbedaan, Karakteristik Otak Kanan dan Otak Kiri

Berpikir kreatif dan berpikir kritis bukanlah sekedar pengetahuan yang dapat anda peroleh dari bacaan, ia juga bukan bawan lahir (bakat). Ini adalah sebuah keterampilan yang harus dilatih terus menerus, dijalankan dengan tekun dengan membuka diri keluar dari “sangkar emas”, dan abaikan segala atribut yang sudah Anda miliki. Maksud saya abaikan jenjang pendidikan (gelar), status jabatan, kedudukan, status sosial ekonomi, dan sebagainya.

Ibarat melakukan perjalanan ke suatu negeri yang tidak dikuasai bahasanya tanpa pengawal atau guide. Anda harus berjalan keluar hotel mencari makanan di sebuah keramaian dengan kendaraan umum. Pilihannya sangat banyak, naik kereta (trem) atau bus (metro), bergerak arah ke kiri atau ke kanan, mempelajari berapa harga yang harus dibayar, dan seterusnya. Semakin teramangu, semakin bingung. Anda tak akan mendapatkan apa-apa. Tidak ad acara lain, Anda adalah driver bagi diri anda sendiri. Harus bergerak, berjalan, mendatangi, membaca, bertanya, dan mencoba. Anda mencoba menafsirkan kata-kata tertulis dengan peta, dengan ucapan, tulisan dan lain sebagainya.

Begitu teka-teki terpecahkan, anda segera sadar ternyata tidak sulit. Dan Anda sudah siap menjawab orang serupa yang datang belakangan dengan kebingungan. Semua itu bisa dicapai karena Anda tidak membiarkan diri dikendalikan oleh kebingugan. Anda bergerak, mencari kebenaran, dan mengujinya secara kritis.

kreativitas dan berfikir kritis, keduanya harus dilatih

Demikianlah dengan kreativitas dan berfikir kritis, keduanya harus dilatih, karena hanya dengan dilatih maka Anda akan berubah. Anda menjadi lebih kreatif keran bergerak. Tak cukup hanya satu bagian dari otak Anda melainkan semuanya, kiri dan kanan. Keduanya mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda.

Otak sebelah kiri (Left Brain) mempunyai peran dan tugas dalam melakukan analisis, evaluasi dan logic (reasoning). Dalam pendidikan formal, otak kiri dilatih dengan kemampuan mengolah angka (matematika), bahasa (kata-kata), metodologi (pengambilan keputusan), dan reasoning (membandingkan, melihat pilihan). Dengan demikian, ia bisa mengambil keputusan objektif dengan melihat detail dan berpikir kritis.

Sedangkan otak kanan dilatih melalui seni dan budaya, rasa, dan imanjinasi. Sayangnya dunia persekolahan kita dalam beberapa hal lebih mementingkah sisi yang satu (otak kiri), dan itupun tidak pernah dilatih sampai tuntas. Akibatnya, meskipun berpendidikan tinggi , belum ada jaminan seseorang mampu berpikir secara mandiri dan kritis. Sebaliknya, orang yang berpendidikan tinggi terpenrangkap dalam logika sinisme, merasa benar sendiri, egisentris. Bahkan banyak ditemuirang yang berpendidkan tinggi masih percaya pada takhayul. Sebaliknya banyak orang kreatif percaya sekolah tak penting.

Perbedaan, Karakteristik Otak Kanan dan Otak Kiri

Sehingga tidak memiliki referensi yang memadai. Akibatnya, hanya bisa berbicara daripda berbuat berbuat dan hanya bisa melakukan terobosan-terobosan kecil, hanya dipermukaan. Kurang mampu membuat “bangunan tinggi berfondasi kuat”.

Keseimbangan keduanya tentu bukan tidak mungkin dicapai , ingatlah mitos-mitos ini masih sering kita dengar :

  • Semakin tinggi pendidikan semiakin tidak keriafir
  • Oang yang tidak bersekolah tinggi semakin kreatif
  • Manusia kritis berbeda dengan manusia kretif, keduanya tak bisa disatukan

Mistos-mitos seperti itu terbentuk karena manusia kreatif tidak memilih atau berlatih menjadi manusia yang kritis. Dalam lingkungan yang bersifat dogmatisdan religus, misalnya, ditemukan banyak orang yang kesulitan membedakan mana fakta fiksi. Demikian juga penamaan rasa takut yang berlebihan. Ini akibat lahirnya manusia-manusia dewas yang sudah dimanipulasi. Misalnya, oleh harapan harapan kosong seperti janji memberi keuntungan yang besar tanpa bekerja keras dan tanpa resiko. Seperti itu pula lah mreka menafsirkan gosip, rumor atau informasi tentang keburukan atau kebaikan seseorang. Pada akhirnya manuisa-manusia seperti ini akan kesuliatan bertranformasi menjadi driver. Mereka terpenrangkap dalam tahanan “pasangger” yang tidak berani maju.

Sementara yang lain begitu maju dan agresif menantang masa depan, tetapi tidak didasarkan asumsi-asumsi yang benar. Mereka juga terperangkap dalam belief  yang tidak masuk akal dan mendiamkannya.

Karakteristik Otak Kiri

  • Mengikuti pola yang logis
  • Objektif, kritis/negative, why ?
  • Kronologis dari detik ke detik, jam, hari, bulan, tahun
  • Balck/White, benar/salah
  • Melihat detail

Karakteristik Otak Kanan

  • Mengikuti debaran intuisi
  • Menciptakan pol acara acak/spontan
  • Subjekif, why nit? Positif
  • Melihat keseluruhan, bukan element
  • Tak terbatas, break rules

Sumber :

Judul Buku / Penulis : Self Driving / Rhenald Kasali 

Share Artikel Ini Kuy