Penghalang Manusia Untuk Berpikir Kritis

Hal-hal Yang Menjadi Penghalang Manusia Untuk Berpikir Kritis

Ada cukup banyak rintangan yang menghalangi masyarakat Indonesia untuk berpikir lebih kritis dengan mengenali penghalang-penghalang dalam hidup, saya harap pembaca dapat lebih bijak mengatasinya.

Kurang informasi, Bacaan dan Penjelasan

Manusia punya kecenderungan memenggal informasi untuk kepentingan dirinya. Baik disadari ataupun tidak, orang-orang yang beraliran keras dan merasa dunia ini penuh ketidakadilan atau yang bermental losser akan cenderung menyebarkan informasi yang bersifat menghasut. Baik itu untuk melawan ataupun memperkuat barisan dalam memasuki sesuatu yang akan diperangi. Orang-orang yang humoris akan memotong informasi menjadi lebih ringan dan membuat Anda tersenyum. Sedangkan orang-orang yang gembira akan mengirimkan pesan-pesan yang terlah dipoles menjadi lebih semangat.

Kalau penerima pesan dari orang-orang tersebut tidak memiliki kemampuan berpikir kritis, maka mereka semua akan mudah menerima pesan-pesan itu sebagai suatu kebenaran. Dan tanpa memikirkan tingakt kebenaran atau akibat-akibatnya. Pesan-pesan itu dengan cepat mereka sebarluaskan (forward), copy paste kembali kepada orang-orang lainnya.

Bacaan, pergaulan dan perjalanan yang luas dapat membuat manusia memperluas cakrawalanya, untuk melihat kebenaran dari sudut yang berbeda, dengan bertemu orang-orang yang berbeda, maka akan didapat pengalaman dan bisa mengurangi prasangka-prasangka. Namun semua terpulang pada Anda, apakah hati Anda bersih dan mau mencari kebenaran, atau Anda fanatik buta dan hanya mencari pembenaran.

sumber foto: https://www.pexels.com/

Egosentrisme

Manusia yang egosentris cenderung tidak kritis, ia hanya bisa menjadi manusia yang menyakitkan orang lain. Ia hanya bisa menjadi manusia yang kritis pada orang-orang yang berpikiran sama dengannya. Ia senang jika dikeliingi oleh orang-orang yang bisa memberikan pembenaran-pembenaran terhadap langkah-langkah yang menguntungkan dirinya. Namun sinisme tidak sama dengan kritis. Orang-orang yang egosentris hanya menganggap pendapatnya saja yang benar, itu sebabnya mereka sinis terhadap pendapat orang lain yang berbeda dengan mereka.

Manusia Lemah

Dalam perjalanannya manusia-manusia dapat terbentuk menjadi makhluk yang serba lemah. Manusia-manusia yang lemah adalah manusia yang gampang disetir orang lain. Ia tidak punya pendirian tetapi ia takut kehilangan dukungan teman. Maka ia mengambil langkah-langkah conformity (mengikuti apa kata kelompok besar).

Berpikir Sempit

Orang-orang yang sempit, cupet atau tertutup akan menerima pandangan sebagai suatu kebenaran. Orang-orang yang seperti itu adalah orang-orang yang tertutup dan tak terbuka terhadap pembaruan. Mereka berprilaku demikian karena jarang berinteraksi dengan dunia diluarnya. Cenderung dogmatik karena dibesarkan dalam pengajaran yang bersifat satu arah dan melarang sikap atau pemikiran-pemikiran kritis.

Distrust

Pada dasarnya system yang membuat manusia saling tidak percaya juga sulit melahirkan manusia-manusia kritis. Pengalaman hidup bisa mengajarkan bahwa orang lain sulit dipercaya. Dengan cara berpikir seperti ini, manusia juga bisa menjadi tidak kritis karena hanyut dengan cara pandangnya.

Stereotyping

Ini adalah pandangan yang menyesatkan tentang keompok tertentu memiliki karakter tertentu tanpa dasar yang dapat dipertanggungjawbkan. Manusia membentuk sterotyping untuk mempermudah klarifikasi, namun ini juga menjadikan mereka tidak kritis

Budaya Instan

Terangkap oleh keinginan mendapatkan hasil cepat tanpa kerja keras, orang-orang seperti ini biasanya juga menjadi tidak kritis. Tentunya jika ada yang bisa memberikan janji keuntungan yang besar atau cepat sembuh tanpa kerja keras, maka akan membentuk harapan yang belum tentu ada kebenarannya.

Section Perception

Ini adalah istilah cognitive psychology yang mengatakan bahwa manusia dalam menerima informasi cenderung menyeleksi. Hanya bagian-bagian tertentu yang ia ingin terima itulah yang ia percayai.

Menyelamatkan Muka

Manusia Asia memiliki budaya yang khas, yaitu tidak ingin kehilangan muka, dan sekaligus pantang membuat orang-orang yang ditokohkan atau dituakan “kehilangan muka”. Karena itulah, sesuatu yang tidak benar tidak dapat dibantah dan yang benar bisa tidak dapat dibenarkan.

Ketakutan Untuk Berubah

Rasa takut yang berlebihan terhadap perubahan bisa membuat seseorang menjadi tidak kritis. Mereka hanya memikirkan rasa takutnya ketimbang logika-logika positif yang hasilnya sangat masuk akal.

Share Artikel Ini Kuy