Guru Bukan Nabi

Guru Bukan Nabi Yang Selalu Benar!!!

Guru Bukan Nabi yang selalu benar. Dan Murid Bukan Kambing Yang Harus Selalu Di Dikte

Inget dulu, gue menolak ketika salah satu dosen yang memberi tugas study kasus yang referensinya hanya boleh dari buku yang beliau tulis dan terbitkan. Entah apa motifnya, mungkin pengen bukunya itu dibeli para mahasiswa sehingga laku dipasaran ? atau mungkin hanya ingin pemikiran-pemikiran beliau lah diterapkan oleh para mahasiswanya ?

yang jelas gue ngga setuju. KENAPA ? karena gue sebagai mahasiswa ngerasa ngga diberi kesempatan untuk meng explore dan mengkaji pemikiran narasumber lain selain beliau. kenapa dengan pemikiran narasumber lain Paak ? emang yang benar hanya pemikiran Bapaak ? jangan mentang-mentang bergelar Doktor Paak ! gimana kita mau berkembang coba kalo gini caranya ? 

jadi inget sama sepenggal kalimat Rhenald Kasali.sekolah itu jangan hanya pintar 5 Senti (dari ujung rambut sampe ke otak aja), tapi harus pintar 2 meter. (Otak, mata, telinga, mulut, tangan, hati dan kakinya juga harus ikut sekolah biar pintar).

Sekolah 5 senti dimulai dari ujung rambut sampe kepala di bagian atas dan biasanya saat bersekolah tangan harus dilipat, duduk tenang, dan mendengarkan satu per satu seperti melakukan filling supaya tersimpan teratur di otak. Orang-orang yang sekolahnya hanya 5 senti mengutamakan rapor dan transkip nilai. jadi itu mencerminkan seberapa penuh isi kepalanya.

Kalau diukur dari kepala bagian atas, ya paling jauh menyerap hingga 5 senti ke bawah. Tetapi ada juga yang mulainya bukan dari atas, tp dari alas kaki. Pintarnya, minimal harus 50 senti, hingga ke lutut. nah kalo kata Alm. eyang Bob Sadino nih ya,

ini cara goblok. Ngga usah mikir, jalan saja, coba, rasain, lama-lama otomatis naik ke atas.

Bob Sadino

Cuma, mulai dari atas atau mulai dari bawah sama saja. Sama-sama bisa sukses dan bisa gagal. Tergantung berhentinya sampai dimana Ada orang yang mulainya dari atas dan berhenti di 5 senti itu ia hanya menjadi akademisi yang steril dan frustasi. Hanya bisa mikir, tak bisa ngomong, menulis, apalagi memberi contoh. Sedangkan yang mulainya dari bawah juga ada yang berhenti sampai di dengkul saja, seperti (maaf tanpa bermaksud merendahkan profesi) seperti menjadi pengayuh becak yang cuma bisa menyalahin orang lain. Keduanya sama-sama berat menjalani hidup.

Pintar itu bukan hanya untuk berfikir saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan

Nah para imigran arab, Yahudi, China, dan India di Amerika Serikat menciptakan kondisi agar anak-anak mereka agar tidak sekolah hanya 5 senti tetapi sekolah 2 meter. Dari atas kepala hingga telapak kaki. jadi intinya pinter itu bukan hanya untuk berfikir saja, melainkan juga menjalankan apa yang dipikirkan, melakukan hubungan ke kiri dan kanan, mengambil dan memberi, menulis dan berbicara. Otak, tangan, kaki dan mulut sama-sama disekolahin, dan  yaa sama-sama harus bekerja.

Sekarang gue jadi mengerti kenapa orang-orang Yahudi mengirim anak-anaknya ke sekolah musik, atau mengapa orang-orang Tionghoa menugaskan anak-anaknya menjaga toko, dan melayani pembeli selepas pulang sekolah. Sekarang ini di Indonesia sedang banyak masalah karena guru-guru dan dosen-dosennya—maaf—-sebagian besar hanya pintar 5 senti dan mereka mau murid-muridnya sama seperti mereka.

Guru besar Teknik Sipil yang pintarnya 5 senti hanya asyik membaca berita saat mendengar jembatan Kutai Kartanegara ambruk atau terjadi gempa di Padang. Guru besar yang pintarnya 2 meter segera berkemas dan berangkat meninjau lokasi, memeriksa dan mencari penyebabnya, Mereka menulis karangan ilmiah untuk memberikan symposium kepada generasi baru tentang apa yang ditemukan dilapangan. Yang sekolahnya 5 senti hanya bisa komentar atas komentar-komentar orang lain. Sedangkan yang pandainya 2 meter, cepat kaki dan ringan tangan. Sebaliknya yang pandainya  dari bawah dan berhenti sampai di dengkul hanya bisa marah-marah dan membodoh-bodohi orang-orang  pintar. Padahal usahanya banyak masalah.

Rhenald Kasali, Lets Change!

Gue  bisa bercerita banyak tentang dosen-dosen tertentu yang pintarnya sama seperti dosen di atas, tetapi mereka tidak hanya pintar bicara melainkan berbuat , menjalankan apa yang dipikirkan, dan sebaliknya. Maka jangan percaya sukses itu bisa dicapai melalui sekolah atau sebaliknya. Sukses itu bisa dimulai dari mana saja, dari atas oke, dari bawah juga tidak  jadi masalah.

Yang penting jangan berhenti di di 5 senti, atau 50 senti. Seperti otak orang tua yang harus dilatih fisik anak-anak muda juga harus di sekolahkan. Dan sekolahnya bukan di atas bangku, tetapi ada di alam semesta, berteman dengan debu dan lumpur, berhujan dan berpanas-panasan, jatuh dan bangun.

Share Artikel Ini Kuy