Antara Cinta dan Harapan

Cinta adalah sebuah anugerah yang telah Allah berikan kepada setiap insan manusia di muka bumi ini, lengkap dengan akal untuk mempertimbangkannya. Cinta pada dasarnya adalah fitrah bagi manusia. Karena cinta adalah fitrah berarti wujud awal cinta adalah suci. Tetapi kerap kali cinta menjadi sebuah bumerang dan kehancuran.

Itulah akibatnya jika cinta tidak dituntun oleh akal sehat. Cinta bersemayam direlung hati. Cinta dan hati selalu berkaitan. Namun kita sebagai manusia perlu menjaga titipan sang Illahi ini. Banyak sekali manusia yang telah mencintai sesamanya namun ia lupa mencintai sang pemberi cinta. Kita bisa menggunakan peranan akal yang dituntun oleh Al-quran dan Sunnah untuk mengefektifkan arah cinta. Ada tingkatan dalam cinta, yaitu:

  1. Cinta Tingkat Pertama

Menurut Abdullah Nasih Ulwah dalam Islam Wa Al-Hub cinta yang paling utama adalah cinta seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah S.W.T

2. Cinta Tingkat Menengah

Cinta kepada orang tua, anak, saudara istri/suami dan kerabat.

3. Cinta Paling Rendah

Yaitu cinta yang mengutamakan mencintai dunia, harta, jabatan dan tempat tinggal.

Kejarlah cinta Allah jangan kamu mengejar cinta dunia dan manusia. Jika kamu mendapatkan cinta-Nya maka mudah bagimu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

antara cinta dan harapan
Sumber Foto: www.pexels.com

Rasulullah SAW bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka seluruh yang ada di langit dan di bumi akan mencintai orang tersebut. Sebaliknya jika Allah membenci, maka bencilah seluruh penduduk langit dan bumi termasuk malaikat jibril” (H.R Bukhari Muslim).

Tidak sedikit manusia kecewa karena cinta, sebenarnya kita tidak perlu menyalahkan rasa cinta itu, sebab cinta itu tidak salah, cinta itu tidak rumit, yang rumit adalah kita. Jika saja kita lebih mencintai-Nya maka percayalah tidak akan ada patah hati, kecewa dan sakit. Apa yang membuat kita patah hati, kecewa dan sakit karena manusia? Yaitu sebuah pengharapan besar, harapan-harapan yang tumbuh sejak kamu mencintainya, harapan yang kamu impikan bersamanya.

Kita tidak salah jika kita mencintai manusia, yang harus kamu perhatikan untuk menyelamatkan hatimu adalah cintailah manusia sewajarnya. Jangan kamu mencintainya melebihi cinta kamu kepada sang pencipta-Nya. Dan begitu pula dengan harapan. Tidak ada yang salah dengan harapan, hanya saja yang perlu digaris bawahi adalah kepada siapa kita harus berharap.

Sumber Foto: www.pexels.com

Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku sudah pernah merasakan kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”.

Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” (Q.S Al-Insyirah : 8)

Ketika hatimu terlalu berharap pada seseorang, maka Allah timpahkan ke atas kamu pedihnya pengharapan supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui orang yang berharap pada selain-Nya, Allah menghalangi dari perkara tersebut semata agar ia berharap kembali kepada Allah S.W.T”. (Imam Syafi’i).


Baca Juga : Peran Visi Hidup Seseorang Didalam Kehidupannya


Kita boleh berharap, akan tetapi jangan sampai salah menggantungkan harapan, untuk itulah  banyak manusia yang dikecewakan oleh manusia lainnya karena terlalu berharap pada sesuatu yang salah. Satu-satunya yang harusnya menjadi tempat bergantung kita adalah Allah S.W.T. karena Ia tidak akan pernah mengecewakan kita, selama kita percaya.

Didalam cinta tidak luput dari kebahagiaan, kesedihan, ujian, kesabaran dan keikhlasan. Kebahagiaan dan kesedihan adalah dua hal yang saling berkaitan. Didalam kehidupan manusia pasti mengalami kedua hal itu.

Antara cinta dan harapan
Susmber Foto: www.pexels.com

Begitupun dengan ujian, ujian akan selalu ada dalam setiap cinta dan kehidupan yang kita jalani. Untuk menghadapi kesulitan ujian hidup adalah dengan cara bersabar, ikhlas dan bersyukur. Sejatinya, banyak manusia yang berusaha menunjukan kebahagiaannya akan tetapi sebenarnya kebahagiaan yang ditunjukan itu semu.

Terlalu banyak bersandiwara, hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Membahagiakan diri sendiri tidak berarti harus membohongi diri sendiri. Bahagialah dengan tidak berpura-pura bahagia sebab jika hanya berpura-pura itu sama saja membohongi dirimu sendiri.

Bahagia itu bukan tentang sebesar apa pencapaian mu saat ini dan bukan seberapa banyak yang kamu punya, tetapi tentang makna dari rasa syukurmu itu sendiri.

Mulailah dengan mensyukuri hal-hal kecil yang kamu punya. Jadi tidak akan ada kamuflase-kamuflase yang harus kita ciptakan hanya untuk bersandiwara tentang kebahagiaan itu. Lebih jujurlah dengan perasaanmu sendiri, bahkan walau hanya melalui tulisan. berbahagialah dengan sebenar-benarnya kebahagiaan.

Share Artikel Ini Kuy